Menyusuri Jejak Kosmopolitan Masa Lampau di Kampung Melayu Semarang

Bicara soal wisata sejarah di Semarang, perhatian wisatawan biasanya langsung tertuju pada kemegahan bangunan kolonial di kawasan Kota Lama. Padahal, jika kita bergeser sedikit ke arah utara, terdapat sebuah "harta karun" peradaban kota yang tak kalah memukau: Kampung Melayu.
Berlokasi di Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, kawasan ini bukan sekadar permukiman warga biasa. Kampung Melayu adalah mesin waktu yang merekam jejak sejarah Semarang sebagai kota pelabuhan multikultural yang sangat sibuk pada abad ke-17 hingga abad ke-19.
1. Titik Temu Berbagai Bangsa Nusantara
Sejarah Kampung Melayu bermula dari fungsinya sebagai pelabuhan kuno (Boom Lama) atau kawasan pendaratan perahu yang kerap disebut Dusun Darat. Sebelum pelabuhan besar dipindahkan ke kawasan Tanjung Emas, jalur Kali Semarang di sekitar area ini adalah urat nadi perdagangan nusantara.
Karena menjadi pintu masuk kapal-kapal saudagar, kawasan ini berkembang menjadi wilayah yang sangat kosmopolitan. Uniknya, meski bernama "Kampung Melayu", penduduk yang mendiaminya sangat beragam. Selain etnis Melayu, kawasan ini menjadi tempat bermukimnya pendatang dari Arab (Yaman/Hadramaut), Tionghoa, Gujarat (India), Banjar, Bugis, hingga masyarakat Jawa lokal. Perbauran etnis yang harmonis inilah yang membentuk tata ruang, arsitektur, dan kearifan lokal Kampung Melayu menjadi sangat khas.
2. Ikon Akulturasi: Masjid Menara Layur
Jika Anda berkunjung ke kawasan ini, titik pusat yang wajib disambangi adalah Masjid Layur (atau kerap disebut Masjid Menara). Dibangun pada tahun 1802 oleh komunitas saudagar asal Yaman, masjid ini merupakan cagar budaya saksi bisu kejayaan Kampung Melayu. Berikut adalah beberapa keunikan dari masjid bersejarah ini:
• Arsitektur Akulturasi:
Desain bangunannya adalah perpaduan cantik antara gaya Arab, Melayu, dan Jawa. Atapnya menggunakan struktur tajuk tumpang tiga khas Jawa, sementara ornamen dinding dan menaranya sangat kental dengan nuansa Timur Tengah.
• Menara Mercusuar:
Menara menjulang yang menjadi ikon masjid ini dulunya memiliki fungsi ganda. Selain untuk mengumandangkan azan, menara ini digunakan sebagai mercusuar untuk memantau lalu lintas kapal yang masuk ke Kali Semarang.
• Lantai yang Terkubur Zaman:
Sekilas masjid ini terlihat hanya memiliki satu lantai. Faktanya, masjid ini aslinya berlantai dua. Karena kawasan pesisir Semarang kerap dilanda banjir rob (air pasang), lantai pertamanya terpaksa diuruk atau ditimbun tanah puluhan tahun lalu. Area yang digunakan jamaah saat ini sebenarnya adalah lantai kedua.
• Tradisi Kopi Arab:
Setiap bulan Ramadan, Masjid Layur memiliki tradisi berusia lebih dari seabad, yakni menyajikan takjil berupa Kopi Arab yang kaya akan seduhan rempah-rempah bagi warga sekitar maupun musafir.
3. Wajah Baru Wisata Heritage Semarang
Sempat menghadapi tantangan kekumuhan dan ancaman banjir rob selama bertahun-tahun, wajah Kampung Melayu kini telah bersolek. Melalui program revitalisasi besar-besaran dari pemerintah yang rampung pada akhir 2022, kawasan ini telah ditata menjadi jauh lebih rapi, bersih, dan estetis tanpa menghilangkan roh klasiknya.
Saat ini, Kampung Melayu diproyeksikan sebagai bagian penting dari ekosistem wisata Semarang Lama (melengkapi kawasan Kota Lama, Pecinan, dan Kauman). Dengan jalanan paving block yang tertata dan deretan bangunan berarsitektur lawas, kawasan ini sangat ideal dijadikan destinasi walking tour (tur berjalan kaki) bagi wisatawan yang gemar mempelajari sejarah atau sekadar mencari objek street photography.
Kesimpulan
Kampung Melayu adalah bukti otentik bahwa Kota Semarang telah memeluk keberagaman budaya sejak ratusan tahun lalu. Berkunjung ke kawasan ini memberikan kita pelajaran berharga tentang akar identitas pesisir Jawa yang terbuka, toleran, dan kaya akan nilai historis.